Aku bilang :
Kamu begitu indah meski katanya kamu begitu buruk
Bagiku kamu permaisuri meski baginya kamu perusak dunia
Kamu adalah teman hidup meski baginya kamu adalah penjahat ulung
Teman hidup yang kupilih dengan bodohnya
Aku menyanjung kamu meski mereka membencimu
Mereka bilang "berhentilah, sayangi dirimu sayangi sekelilingmu"
Aku tak berhenti, aku sayang kamu
Mereka bilang "itu mencemari udara, tidakkah kamu tahu? Berhentilah"
Aku tahu kamu mengotori udara tapi kamu menyegarkan jiwaku
Aku tahu, kamu menusuk perlahan paru-paruku
Mencoba menghentikan detak jantungku
Dengan lembut merusak tubuh ku
Aku sungguh tahu bagaimana kamu
Mereka menyuruhku melepaskanmu
Tapi aku sulit lepaskan diri darimu
Kamu sudah terlanjur menjadi separuh hidupku
Kenikmatan terasa olehku ketika menghisapmu
Bagaimana cara aku meninggalkanmu?
Sedangkan kamu separuh nafasku
Dia bilang :
Aku ingin seperti mereka
Mereka yang bebas bernafas tanpa rasa sakit di dada
Menikmati udara dengan nafas yang sempurna
Tapi aku tak bisa seperti mereka
Aku bukan mereka
Paru-paruku bukan paru-paru mereka
Paru-paru kita berbeda
Sedikit saja menghisap segumpal asap kelabu, sesak menyeringai dada
Dan aku bingung pada mereka yang merusak diri secara perlahan
Menghisap setangkai 9 centimeter candu, mengepulkan asap maut
Aku ingin miliki paru-paru sempurna mereka, tp mereka justru merusaknya
Bisakah kita bertukar paru-paru?
Nanti aku akan menjaga sekuatnya
Tak akan ku rusak dengan sebatang nikotin
- 08.13 WIB -