Rabu, 08 April 2015

Kado Ulang Tahunku

Terimakasih Tuhan atas kado yang Kau beri
Terimakasih telah mempertemukan aku dengan kamu
Di hari ulang tahunku
Melihat kamu adalah kado indah buatku
Meski kamu tidak tahu itu
Terimakasih ucapan "selamat!" yang kamu beri buatku
Akan aku simpan itu 


Jakarta Pusat, 8 April 2015 13:35 WIB

Kamis, 02 April 2015

Cerita Cokelat


Aku pernah bercerita tentangmu di Februari
Tentang kamu, si gadis pengambil cokelat
Gadis pengambil cokelat, bagaimana kabarmu?
Bagaimana perasaanmu?
Aku dengar dari sang merpati kabarmu sedang tak baik
Terlalu maniskah cokelat untukmu?
sehingga membuatmu sakit
Maafkan cokelat manis yang rasanya justru dominan pahit
Maafkan cokelat yang mungkin hanya memberi manisnya sesaat
Berlapang hatilah...
Sang merpati akan membawakanmu coklat lain
Coklat yang manis juga rasanya, minim pahitnya
Dan tak akan membuat gigimu sakit

- Ruang kotak 20:19 WIB-

Senin, 09 Maret 2015

Dari Waktu ke Waktu


Usianya 6 tahun waktu itu
Ia duduk dibangku taman sekolah
Memperhatikan temannya berlari riang kesana kemari
Bermain kasti di lapangan rumput hijau
Ia hanya bisa menahan iri untuk ikut bermain
Badannya yang lemah tidak mau diajak kompromi

Waktu itu anak seusianya makan permen manis sesuka hati
Tapi ia tidak, permen pahitlah yang boleh dimakannya
Waktu itu temannya bebas minum es apapun rasanya
Tapi ia tidak, sirup pahitlah yang boleh diminumnya
Waktu itu temannya pergi main ke taman hiburan
Tapi ia tidak, rumah sakitlah ia perginya
Dialah gadis kecil yanng malang
Pembawa amplop coklat berisi gambar paru-paru

Waktu itu 15 tahunlah usianya
Masih setia dengan amplop coklat yang sering ia bawa
Berkunjung dari satu rumah putih ke rumah putih lainnya
Tanpa letih tanpa tangis
Karna ia sudah pernah menangis sampai letih
Terus berjuanglah ia...

18 tahunlah usianya sekarang
Terkapar ia lemah tak berdaya
Pecah tangis di pangkuan ibu ayahnya
Ia bilang ingin menyerah
Ia bilang tak mampu berjuang dengan sisa mimpinya
Ia bilang tak mampu lagi melihat tingginya langit
Tapi Tuhan masih disitu, masih bersamanya
Waktu membuatnya bangkit kembali
Setelah jatuh berkali-kali
Waktu membuatnya tegar kembali
Setelah dihantam sakit bertubi-tubi

-Di waktu subuh-



Kamis, 05 Maret 2015

Menuju Muara


Dibawah cerah langit biru
Pernah ada canda yang dulu menggema
Tawa yang membahana
Bercerita tidak ada usainya
Terkadang dibumbui air mata yang tak sengaja tumpah
Detik perlahan membawa semua itu pergi bersama waktu
Detik mengayunkan langkah kita menuju titik muara
Muara yang akan berakhir indah
Yang membuat kita tersenyum bahagia
Terharu dengan segala jerih payah
Semua akan menjadi satu, disana...

Selangkah lagi, sayang
Muara menunggu kita untuk sampai
Detik akan membawa akhir yang indah
Meski dalam perjalanannya akan ada yang harus dikorbankan
Berjuanglah! Selangkah lagi!
Berbagai macam lembaran hari mampu kita lewati bersama
Telah banyak kisah yang disaksikan oleh sang awan di langit
Dan ketika kita sampai pada muara, akan terbayang semuanya
Semua kisah yang sudah kita lalui bersama
Semua yang membekas pada hati, pikiran dan jiwa
Yang perlahan semua menjadi kenangan
Dan akan tersenyumlah kita saat mengenangnya
Akan rindulah kita pada kisah yang sudah terukir indah

Selangkah lagi! Bersabarlah! Berjuanglah!  
Perjuangan akan berakhir indah


Semangat, Galeria :)


Jakarta Dini Hari








Selasa, 03 Maret 2015

Begitu Ada Kamu


Namarappuccino

Pernah merasa selalu berusaha menarik perhatian seseorang dan sudah mencoba berbagai cara, tetapi semuanya tetap sia-sia?

Pernah merasa kangen sekangen-kangennya sampai tidak berani mengatakannya karena takut yang dikangenin tidak merasakan hal yang sama?

Pernah merasa benar-benar ingin memeluk seseorang tapi tidak pernah bisa melakukannya karena orang yang ingin dipeluk bukanlah siapa-siapanya kita?


Pernah merasa menjatuhkan hati kepada seseorang dengan sangat, tetapi tidak pernah ditangkap?

Pernah merasa sudah tahu kalau sudah terlalu banyak waktu yang dibuang untuk menunggu agar seseorang membalas cintamu, tapi tidak juga bisa berhenti melakukan itu?


Aku pernah merasakannya. Sepinya, kangen setengah matinya, deg-degannya, sesak setiap malamnya, dan semua perasaan tak nyaman sampai ingin selalu berhenti merasakannya.

Kalau kamu? Ah, mungkin kamu tidak tahu dan tidak pernah. Karena aku yang merasakannya, bukan kamu.

Tetapi kamu tahu? Jatuh cinta diam-diam itu tidak mengenakkan. Jatuh cinta pada kamu, seseorang yang sudah punya pasangan itu sangat melelahkan. Tapi aku bisa apa jika aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya? Inginnya, dari dulu saja kita tidak pernah bertegur sapa. Dari dulu saja kita tidak sering bertatap muka sampai tak sengaja, hatiku menjatuhkan cinta. Kalau dari dulu kita tidak pernah saling mengenal, mungkin aku tidak pernah merasakannya.

Aku tahu, aku tahu. Aku harus menghentikannya. Melepasmu sebisanya dan harus bisa. Tetapi aku sudah mencoba berbagai cara. Sudah menyibukkan diri dengan apa saja, sudah berusaha nongkrong bersama teman-teman, sudah berusaha membuka hati kepada yang lainnya. Kamu lihat, aku sudah mencoba semua cara yang aku bisa.

Lalu aku melihatmu. Tersenyum dan menyapaku dengan satu kata, "Hai" saja. Dan semua usaha langsung buyar begitu saja.


- Diambil dari blog Namarappuccino -

Senin, 02 Maret 2015

Rasa Bulan, Bintang dan Matahari


Bulan tidak mampu bilang rindu pada bintang
Bulan tidak mampu bilang aku suka kamu, bintang
Yang bulan mampu adalah memendam rasa
Rasa yang sudah lama tumbuh begitu saja
Rasa yang tak mudah untuk diungkapkan
Rasa yang setiap harinya seperti gunung
Gunung yang ingin memuntahkan laharnya


Andai kamu tahu, bintang

Bulan menampakkan wajah kepalsuan
Ia tebarkan senyum senang meski luka
Ia tampakkan keikhlasan meski sedih
Itulah yang bulan lakukan
Ketika meteor datang membawamu pergi
Meski bulanlah yang lebih dulu mengenalmu
Meski bulanlah yang lebih dulu mengagumimu
Meski bulanlah yang lebih dulu jatuh hati
Bukan meteor, yang baru saja melintas di langit


Cukuplah bagi bulan untuk melihat bintang bersinar terang

Tanpa perlu bulan merengkuhmu, bintang
Cukuplah bulan berdoa agar bintang semakin berbinar bersama meteor
Dan mustahillah sekarang untuk bulan memeluk bintang
Bintang jauh pergi dibawa oleh meteor
Bulan dengan rasa yang terpendam mencoba mencari cahaya dari matahari
Berharap matahari mampu menghilangkan rasa bulan pada bintang



Siang hari cerah






Setangkai Candu Kelabu


Aku bilang :
Kamu begitu indah meski katanya kamu begitu buruk
Bagiku kamu permaisuri meski baginya kamu perusak dunia
Kamu adalah teman hidup meski baginya kamu adalah penjahat ulung
Teman hidup yang kupilih dengan bodohnya 
Aku menyanjung kamu meski mereka membencimu
Mereka bilang "berhentilah, sayangi dirimu sayangi sekelilingmu"
Aku tak berhenti, aku sayang kamu
Mereka bilang "itu mencemari udara, tidakkah kamu tahu? Berhentilah"
Aku tahu kamu mengotori udara tapi kamu menyegarkan jiwaku
Aku tahu, kamu menusuk perlahan paru-paruku
Mencoba menghentikan detak jantungku
Dengan lembut merusak tubuh ku
Aku sungguh tahu bagaimana kamu
Mereka menyuruhku melepaskanmu
Tapi aku sulit lepaskan diri darimu
Kamu sudah terlanjur menjadi separuh hidupku
Kenikmatan terasa olehku ketika menghisapmu
Bagaimana cara aku meninggalkanmu?
Sedangkan kamu separuh nafasku



Dia bilang :

Aku ingin seperti mereka
Mereka yang bebas bernafas tanpa rasa sakit di dada
Menikmati udara dengan nafas yang sempurna
Tapi aku tak bisa seperti mereka
Aku bukan mereka
Paru-paruku bukan paru-paru mereka
Paru-paru kita berbeda
Sedikit saja menghisap segumpal asap kelabu, sesak menyeringai dada
Dan aku bingung pada mereka yang merusak diri secara perlahan 
Menghisap setangkai 9 centimeter candu, mengepulkan asap maut
Aku ingin miliki paru-paru sempurna mereka, tp mereka justru merusaknya
Bisakah kita bertukar paru-paru?
Nanti aku akan menjaga sekuatnya
Tak akan ku rusak dengan sebatang nikotin




- 08.13 WIB -













Hari Bahagia


Hari bahagia adalah hari ini
Ketika alam semesta mempertemukan kita
Ketika biru muda bertemu dengan biru tua
Bahagia bisa berada di dekatmu
Bahagia bisa bersenda gurau
Bahagia bisa mendengar celetukan lucumu
Bahagia bisa menyentuh kulitmu
Bahagia bisa bersandar di bahumu
Bahagia bisa melihat indah binar matamu
Bahagia Tuhan mempertemukan aku dengan kamu, walau hanya sebentar di hari ini...

Depok Sore

Rabu, 25 Februari 2015

Yang Telah Lalu...

Sepi sunyi...
Aku termenung di bawah pendar cahaya bulan
Sudah sejauh ini aku melangkah
Kuingat kembali semua yang telah lalu
Air mataku sempat pernah mengering
Ragaku sempat pernah terkulai lemah
Jiwaku sempat pernah hampir tandus
Aku berada di padang gurun
Tak tahu dimana titik tujuan
Aku coba bertanya pada pohon kaktus, mereka bisu
Aku coba bertanya pada tanah, mereka tidak mau memberitahu
Seluruh dariku ingin menyerah
Tapi oase menyegarkan aku yang letih
Memberikan aku semangat
Memberikan aku sebuah harapan
Aku bertahan dengan sisa-sisa mimpi
Ketika itu, aku ingin hidup...
Ketika itu, aku ingin berjuang...
Ketika itu aku menerima Takdir-Nya...
Dan ketika itu, aku menjadi tegar
Dan ketika itu semua sudah aku lalui, aku telah menjadi baja sekarang...

- 06.45 WIB-

Senin, 23 Februari 2015

Ini Tentang Capung


Kembali pada masa itu
Ketika ilalang bermesraan dengan rumput
Ketika air yang bersih menjadi primadona
Ketika bau tanah basah menjadi keasyikan
Ketika kalian terbang kesana kemari
Dan ketika anak kecil berlomba menangkap teman kalian, si belalang...

Anak kecil mengendap-endap menghampiri
Mencoba menangkap dengan segelas botol plastik
Yeay.... tertangkap kau!
Bersorak dengan gembira
Diperhatikannya sayap kalian
Unik sekali!
Kemudian dilepaskan lagi kalian
Dikembalikan lagi kalian pada ilalang

Aku merindu,
Merindu saat mengejar kalian, capung...
Aku rindu ilalang, belalang, dan kamu

-06.29 WIB-

Minggu, 22 Februari 2015

Peri Pemberi Udara

Udara...
Bagaimana bisa aku menghitung sudah berapa banyak yang aku hirup
Bagaimana bisa aku menjumlahkan kasih sayang yang kau beri
Kasih sayangmu adalah udaraku
Aku takkan bisa bernafas tanpa udara
Kaulah Peri Pemberi Udara
Membantu agar aku mampu bernafas tanpa rasa sakit
Udara yang kau beri memberikan aku kesempatan
Kesempatan untuk menikmati hidup
Hidup yang terkadang rumit
Tapi terkadang mudah

Tulus sekali aku lihat dari wajahmu
Sabar sekali aku lihat dari kelembutanmu
Kau terus saja memasok udara untukku
Dengan begitu banyak pengorbanan
Tanpa sedikitpun lelah

Udara yang telah kau beri, membuat aku masih berada disini
Terimakasih, Mama
Kaulah Peri Pemberi Udara
Terimakasih Tuhan, Engkau lahirkan aku dari rahim seorang peri
Peri yang tidak pernah letih memberi udara

-04.32 WIB-

Sabtu, 21 Februari 2015

Baduy Mempesona...


Aku masih tidak percaya, aku berada disini
kakiku diatas tanah indahmu
Aku kira aku bermimpi
Ah ternyata tidak!

Aku berlari lari dengan riang
Menyusuri " tanjakan, dataran, turunan dan lumbung padi"
Bagaimana bisa aku tak takjub dengan semua ini?
Udara segar ini begitu romantis
Alam ini menentramkan hati, menenangkan pikiran
Ah begitu romantis
Membuat aku jatuh cinta seketika

Gelap mulai datang
Lagi dan lagi aku dibuat takjub olehmu
Hamparan bintang tersenyum indah menyapaku
Tahu saja kamu kalau aku pengagum bintang
Kamu memberikan ribuan bintang di langit
Bolehkah aku kantongi satu bintang saja untuk dibawa pulang?

Akan ada lagi yang membuat aku takjub
Ah benar saja!
Pohon-pohon bernyanyi, pamer suara merdu
Mungkin mereka ingin bersaing dengan lokananta di syurga
Atau mungkin mereka ingin membuat aku terbang ke langit 
Tahu saja kamu kalau aku penikmat kemerduan

Terimakasih Baduy, kamu membuat aku terpesona
Dan terimakasih Baduy telah melahirkan mereka yang bermata indah
Tahu saja kamu kalau aku pecandu indahnya binar mata
Terimakasih Tuhan, kamu telah melukiskan semua keindahan ini
Dan terimakasih Tuhan, telah membawa aku untuk menikmatinya
Terimakasih aku, aku bersyukur....



-08.32 WIB-

Gadis Pengambil Cokelat


Datang seorang gadis
Entah siapa dia, aku tidak tahu
Tapi aku ingin tahu
Aku ingin tahu gadis seperti apa yang katanya suka cokelat
Karena aku juga penggemar cokelat dari dulu
Aku mencari tahu
Dan aku tahu, dia cantik...

Aku lihat ada sepotong cokelat di bangku taman
Masih terbungkus, dan pita biru muda melingkarinya dengan rapih
Entah siapa yang sudah menaruhnya disana
Mungkin, pemiliknya terdahulu sudah bosan dengan manisnya cokelat...

Aku coba mendekat, siapa tahu aku bisa menikmati cokelat
Aku tidak sadar, ada gadis yang juga mendekat
Mendekati cokelat...
Aku sama seperti gadis itu
sama sama ingin terbuai oleh manisnya cokelat
Ah tapi sayang...
Gadis itulah yang berhasil mengambil cokelat
Sedihkah aku? Senangkah aku?

Kepada gadis :
Selamat menikmati manisnya cokelat
Aku sedih cokelat diambil olehmu
Tapi aku ikut senang, melihat kamu bahagia ketika menikmati cokelat

Kepada cokelat :
Aku sedih, karena bukan aku yang menikmati manismu
Tapi aku ikut senang, karena ada gadis yang berhasil mengambil kamu di bangku taman
Pesan aku untuk kamu "Jangan kamu, membuat gigi si gadis sakit akibat terlalu sering kamu memberikan manismu"

-Masih dikamarku pkl 06.00 , 2015-



Penikmat Rahasia Matamu

Entah perasaan apa ini, aku tidak mengerti
Entah boleh atau tidak,aku tidak tahu
Kamu menari-nari di pikiranku, selalu...
Ya selalu. Apakah kamu percaya?
Ketika pagi aku membuka mata, kamu datang 
Ketika malam aku memejamkan mata, kamu masih disini
di pikiranku...
Terbayang olehku sepasang bola mata indahmu
Indah matamu membuat aku ingin tinggal disana
Bolehkah?
Bolehkah aku tinggal menetap di matamu?
Atau, bolehkah aku berlama-lama menatap mata indahmu?

Hai mata indah...

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku tersihir oleh keindahanmu
Mungkin ketika matamu dengan mataku bertemu
Disitu aku mau kamu...
Tapi akankah kamu mau aku?
Aku hanya bisa bercerita pada dinding kamar tentang rasaku
Rasa yang begitu lama ada di hati
Rasa yang begitu dalam
Rasa yang sulit untuk dikatakan, rasa mencintai kamu
Tahukah kamu rasanya mencintai tapi bertahan untuk tidak mengatakan?
Kamu tahu kenapa aku bertahan untuk tidak mengatakan?
Bukan karena aku perempuan, bukan...
Bukan pula karena ada perempuan yang tinggal dimatamu sekarang
Tapi karena, matamu dengan mataku terikat oleh tali persahabatan
Tali yang aku khawatirkan akan berubah daya ikatnya
Tali yang aku takutkan daya ikatnya tidak erat lagi
Dan aku takut, dimatamu mataku tidak seindah ketika aku menikmati matamu
Jadi aku memilih untuk menjadi "penikmat rahasia" mata indahmu

Jam tiga pagi dalam kamar, 2015


Kamis, 19 Februari 2015

Bunga Matahari dan Matahari

Terbitlah kamu cahaya dari timur
Cahaya yang mampu membangunkan aku dari tidur
Aku sudah tertidur cukup lama, disini...
Disini dimana cahaya tertutup awan mendung
Awan mendung yang menghalangi aku utnuk tegak berdiri
Awan mendung yang membuat aku merunduk layu
Datanglah cahaya dari timur
Berikan sinar terang pada sang bunga
Sang bunga menatap cahaya dengan seksama 
Cahayapun tersenyum hangat
Kehangatan yang merasuk ke dalam setiap kelopak bunga
Akulah bunga...
Bunga matahari yang ingin memeluk cahayamu
Bunga yang senantiasa memandang ke arahmu
Mengikuti cahaya...
Cahayamu memberikan sang bunga candu
Tetaplah berbagi cahaya pada sang bunga, wahai matahariku...
Aku takkan menjadi bunga matahari, tanpa engkau Sang Matahari

Dini hari dalam kamar, 2015