Rabu, 25 Februari 2015

Yang Telah Lalu...

Sepi sunyi...
Aku termenung di bawah pendar cahaya bulan
Sudah sejauh ini aku melangkah
Kuingat kembali semua yang telah lalu
Air mataku sempat pernah mengering
Ragaku sempat pernah terkulai lemah
Jiwaku sempat pernah hampir tandus
Aku berada di padang gurun
Tak tahu dimana titik tujuan
Aku coba bertanya pada pohon kaktus, mereka bisu
Aku coba bertanya pada tanah, mereka tidak mau memberitahu
Seluruh dariku ingin menyerah
Tapi oase menyegarkan aku yang letih
Memberikan aku semangat
Memberikan aku sebuah harapan
Aku bertahan dengan sisa-sisa mimpi
Ketika itu, aku ingin hidup...
Ketika itu, aku ingin berjuang...
Ketika itu aku menerima Takdir-Nya...
Dan ketika itu, aku menjadi tegar
Dan ketika itu semua sudah aku lalui, aku telah menjadi baja sekarang...

- 06.45 WIB-

Senin, 23 Februari 2015

Ini Tentang Capung


Kembali pada masa itu
Ketika ilalang bermesraan dengan rumput
Ketika air yang bersih menjadi primadona
Ketika bau tanah basah menjadi keasyikan
Ketika kalian terbang kesana kemari
Dan ketika anak kecil berlomba menangkap teman kalian, si belalang...

Anak kecil mengendap-endap menghampiri
Mencoba menangkap dengan segelas botol plastik
Yeay.... tertangkap kau!
Bersorak dengan gembira
Diperhatikannya sayap kalian
Unik sekali!
Kemudian dilepaskan lagi kalian
Dikembalikan lagi kalian pada ilalang

Aku merindu,
Merindu saat mengejar kalian, capung...
Aku rindu ilalang, belalang, dan kamu

-06.29 WIB-

Minggu, 22 Februari 2015

Peri Pemberi Udara

Udara...
Bagaimana bisa aku menghitung sudah berapa banyak yang aku hirup
Bagaimana bisa aku menjumlahkan kasih sayang yang kau beri
Kasih sayangmu adalah udaraku
Aku takkan bisa bernafas tanpa udara
Kaulah Peri Pemberi Udara
Membantu agar aku mampu bernafas tanpa rasa sakit
Udara yang kau beri memberikan aku kesempatan
Kesempatan untuk menikmati hidup
Hidup yang terkadang rumit
Tapi terkadang mudah

Tulus sekali aku lihat dari wajahmu
Sabar sekali aku lihat dari kelembutanmu
Kau terus saja memasok udara untukku
Dengan begitu banyak pengorbanan
Tanpa sedikitpun lelah

Udara yang telah kau beri, membuat aku masih berada disini
Terimakasih, Mama
Kaulah Peri Pemberi Udara
Terimakasih Tuhan, Engkau lahirkan aku dari rahim seorang peri
Peri yang tidak pernah letih memberi udara

-04.32 WIB-

Sabtu, 21 Februari 2015

Baduy Mempesona...


Aku masih tidak percaya, aku berada disini
kakiku diatas tanah indahmu
Aku kira aku bermimpi
Ah ternyata tidak!

Aku berlari lari dengan riang
Menyusuri " tanjakan, dataran, turunan dan lumbung padi"
Bagaimana bisa aku tak takjub dengan semua ini?
Udara segar ini begitu romantis
Alam ini menentramkan hati, menenangkan pikiran
Ah begitu romantis
Membuat aku jatuh cinta seketika

Gelap mulai datang
Lagi dan lagi aku dibuat takjub olehmu
Hamparan bintang tersenyum indah menyapaku
Tahu saja kamu kalau aku pengagum bintang
Kamu memberikan ribuan bintang di langit
Bolehkah aku kantongi satu bintang saja untuk dibawa pulang?

Akan ada lagi yang membuat aku takjub
Ah benar saja!
Pohon-pohon bernyanyi, pamer suara merdu
Mungkin mereka ingin bersaing dengan lokananta di syurga
Atau mungkin mereka ingin membuat aku terbang ke langit 
Tahu saja kamu kalau aku penikmat kemerduan

Terimakasih Baduy, kamu membuat aku terpesona
Dan terimakasih Baduy telah melahirkan mereka yang bermata indah
Tahu saja kamu kalau aku pecandu indahnya binar mata
Terimakasih Tuhan, kamu telah melukiskan semua keindahan ini
Dan terimakasih Tuhan, telah membawa aku untuk menikmatinya
Terimakasih aku, aku bersyukur....



-08.32 WIB-

Gadis Pengambil Cokelat


Datang seorang gadis
Entah siapa dia, aku tidak tahu
Tapi aku ingin tahu
Aku ingin tahu gadis seperti apa yang katanya suka cokelat
Karena aku juga penggemar cokelat dari dulu
Aku mencari tahu
Dan aku tahu, dia cantik...

Aku lihat ada sepotong cokelat di bangku taman
Masih terbungkus, dan pita biru muda melingkarinya dengan rapih
Entah siapa yang sudah menaruhnya disana
Mungkin, pemiliknya terdahulu sudah bosan dengan manisnya cokelat...

Aku coba mendekat, siapa tahu aku bisa menikmati cokelat
Aku tidak sadar, ada gadis yang juga mendekat
Mendekati cokelat...
Aku sama seperti gadis itu
sama sama ingin terbuai oleh manisnya cokelat
Ah tapi sayang...
Gadis itulah yang berhasil mengambil cokelat
Sedihkah aku? Senangkah aku?

Kepada gadis :
Selamat menikmati manisnya cokelat
Aku sedih cokelat diambil olehmu
Tapi aku ikut senang, melihat kamu bahagia ketika menikmati cokelat

Kepada cokelat :
Aku sedih, karena bukan aku yang menikmati manismu
Tapi aku ikut senang, karena ada gadis yang berhasil mengambil kamu di bangku taman
Pesan aku untuk kamu "Jangan kamu, membuat gigi si gadis sakit akibat terlalu sering kamu memberikan manismu"

-Masih dikamarku pkl 06.00 , 2015-



Penikmat Rahasia Matamu

Entah perasaan apa ini, aku tidak mengerti
Entah boleh atau tidak,aku tidak tahu
Kamu menari-nari di pikiranku, selalu...
Ya selalu. Apakah kamu percaya?
Ketika pagi aku membuka mata, kamu datang 
Ketika malam aku memejamkan mata, kamu masih disini
di pikiranku...
Terbayang olehku sepasang bola mata indahmu
Indah matamu membuat aku ingin tinggal disana
Bolehkah?
Bolehkah aku tinggal menetap di matamu?
Atau, bolehkah aku berlama-lama menatap mata indahmu?

Hai mata indah...

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku tersihir oleh keindahanmu
Mungkin ketika matamu dengan mataku bertemu
Disitu aku mau kamu...
Tapi akankah kamu mau aku?
Aku hanya bisa bercerita pada dinding kamar tentang rasaku
Rasa yang begitu lama ada di hati
Rasa yang begitu dalam
Rasa yang sulit untuk dikatakan, rasa mencintai kamu
Tahukah kamu rasanya mencintai tapi bertahan untuk tidak mengatakan?
Kamu tahu kenapa aku bertahan untuk tidak mengatakan?
Bukan karena aku perempuan, bukan...
Bukan pula karena ada perempuan yang tinggal dimatamu sekarang
Tapi karena, matamu dengan mataku terikat oleh tali persahabatan
Tali yang aku khawatirkan akan berubah daya ikatnya
Tali yang aku takutkan daya ikatnya tidak erat lagi
Dan aku takut, dimatamu mataku tidak seindah ketika aku menikmati matamu
Jadi aku memilih untuk menjadi "penikmat rahasia" mata indahmu

Jam tiga pagi dalam kamar, 2015


Kamis, 19 Februari 2015

Bunga Matahari dan Matahari

Terbitlah kamu cahaya dari timur
Cahaya yang mampu membangunkan aku dari tidur
Aku sudah tertidur cukup lama, disini...
Disini dimana cahaya tertutup awan mendung
Awan mendung yang menghalangi aku utnuk tegak berdiri
Awan mendung yang membuat aku merunduk layu
Datanglah cahaya dari timur
Berikan sinar terang pada sang bunga
Sang bunga menatap cahaya dengan seksama 
Cahayapun tersenyum hangat
Kehangatan yang merasuk ke dalam setiap kelopak bunga
Akulah bunga...
Bunga matahari yang ingin memeluk cahayamu
Bunga yang senantiasa memandang ke arahmu
Mengikuti cahaya...
Cahayamu memberikan sang bunga candu
Tetaplah berbagi cahaya pada sang bunga, wahai matahariku...
Aku takkan menjadi bunga matahari, tanpa engkau Sang Matahari

Dini hari dalam kamar, 2015