Menunggu adalah
bagian dari keahlianku. Tapi itu kemarin. Kemarin aku masih berdiri di depan
pintu yang sama meskipun terdapat beberapa pintu lain yang terbuka. Aku masih
berdiri di pintu itu... Masih berharap pintu itu akan terbuka kembali. Sudah
setengah tahun lebih aku masih menunggu pintu itu terbuka. Dan pada akhirnya
aku lelah...
Apakah aku harus
tetap menunggu pintu itu terbuka?
Tapi aku tak
mungkin selamanya menunggu.... Aku selayaknya perempuan lain yang menginginkan
kepastian. Kepastian akankah pintu itu terbuka kembali atau tidak akan pernah
terbuka kembali? Aku lelah... dan tanpa aku sadar pintu lain yang terbuka satu
per satu mulai tertutup. Aku masih di pintu yang sama...Pintu yang tertutup.
Pintu itu kamu. Kamu yang sudah menciptakan
kenangan-kenangan indah dalam hidupku selama satu tahun dua bulan. Kamu yang
masih sering saja menjadi bayang-bayangku. Kamu, yang aku tidak tahu masih
membutuhkan kehadiranku atau tidak dalam hidupmu. Kamu, yang aku tidak tahu
masih menginginkan aku menjadi bagian darimu. Aku tidak mengerti apa yang kamu
inginkan. Kamu yang seakan-akan tidak mau melepaskanku namun tidak mau
memberikan kepastian.
Aku berada di titik
puncak kelelahan menunggu. Aku berada di situasi dimana aku tidak tahu harus
bagaimana. Kemudian aku menyemangati diri untuk tidak melihat hari kemarin.
Hari ketika semuanya terasa sempurna ketika ada kamu. Satu tahun dua bulan yang
indah. Aku tidak mau melihat kemarin, aku tidak mau mengkhawatirkan apa yang
terjadi esok. Aku ingin melakukan apapun yang baik dan berguna di hari ini. “Aku
untuk hari ini, bukan untuk kemarin, bukan untuk esok” Kata-kata yang
menyemangatiku agar aku tidak lagi melihat kebelakang.
Aku sayang kamu...
tapi aku akan pergi jika kamu memang mau aku pergi. Aku sayang kamu...tapi aku
tidak akan menunggu lagi jika kamu memang menyuruhku untuk tidak menunggu lagi.
Semoga bahagia,
kamu...Kamu yang selalu ada di doaku